Welcome

Sabtu, 04 Juni 2011

Perjalanan Ke Pulau Kemarau

Perjalanan hari sabtu tanggal 4 Juni 2011.
By Adrian Fajriansyah
Perjalanan Ke Pulau Kemarau
 
Gambar 1.  Pulau Kemarau
            Ini adalah perjalanan pertama saya mengitari sungai musi menggunakan perahu ketek.  Perjalanan menggunakan perahu ketek memang berbeda. Ada sensasi yang luar biasa saat mengitari sungai musi yang besar dan berarus deras menggunakan perahu ketek.  Awalnya saya sangat takut pergi menggunakan perahu ketek yang berukuran kecil ini.  Gelombang air yang dibuat dari perahu-perahu besar yang lewat disamping perahu ketek kami membuat perahu yang kami tumpangi ini bergoyang ke kiri dan ke kanan.  Rasa was-was takut jatuh begitu terasa tapi lama-kelamaan saya menikmati perjalanan ini.
            Sensasi terkena deburan ombak air yang menggoyangkan prahu ke kiri dan ke kanan semacam ini bukanlah pengalaman baru bagi saya karena sebelumnya saat di Danau Toba, Sumatera Utara saya pernah mengalami saat-saat tegang semacam ini juga.  Namun pengalaman diterjang ombak dan arus deras sungai musi adalah pengalaman pertama kali bagi saya.  Pegalaman di atas sungai musi ini sungguh luar biasa tegang, asik dan menyenangkan.
            Pagi pukul 08.30 wib saya sudah sampai di Benteng Kuto Besak, Palembang menunggu teman-teman (Kgs. M Habibillah dan M. Julian Ginting) yang lain untuk berangkat ke Pulau Kemarau bersama.  Pagi itu sangat cerah dan segar sekali. Selagi menunggu teman-teman datang saya menikmati suasana pagi di pinggiran sungai musi yang sangat ramai dengan aktivitas warga sekitar.  Pukul 09.30 wib teman-teman yang akan pergi bersama ke Pulau Kemarau datang.  Setelah semua berkumpul kami mencari saranan transportasi umum yang biasa membawak wisatawan untuk pergi ke Pulau Kemarau.  Ada dua alternatif saranan transportasi umum yang dapat digunakanan untuk pergi ke Pulau Kemarau yaitu menggunakan perahu boat yang bertenaga mesin besar dan cepat seharga Rp 100.000,- sampai Rp 150.000,- atau menggunakan perahu ketek dengan harga yang lebih murah namun bertenaga mesin kecil dan lambat Rp 80.000,- sampai Rp 100.000,-.  Kami memilih untuk menggunakan perahu ketek karena harganya jauh lebih murah dan sangat pas dengan uang yang ada dikantong kami.
Gambar 2.  Perjalanan Dengan Perahu Ketek
            Bagi anda yang tidak suka dan takut berlama-lama diatas sungai musi disarankan menggunakan perahu boat yang bisa berjalan lebih cepat.  Namun bagi anda penikmat ketegangan dan ingin merasakan perjalanan di atas sungai musi lebih lama sebaiknya menggunakan perahu ketek saja.  Dengan menggunakan perahu ketek perjalan yang ditempuh dari Benteng Kuto Besak menuju ke Pulau Kemarau adalah 30 menit.  Bagi yang pertama kali naik prahu ketek di atas sungai musi akan mengalami rasa was-was karena perahu kecil itu selalu bergoyang ke kiri dan ke kanan ketika datang arus ombak besar dari perahu-perahu besar yang lewat disekitarnya.  Selain menikmati goyangannya naik perahu ketek juga memberikan kenikmatan sendiri karena anda dapat menikmati suasana di atas sungai musi jauh lebih lama dari moda tranportasi lain, anda dapat melihat bagaimana aktivitas warga disekitar sungai maupun diatas sungai melakukan aktivitasnya sehari-hari dan semua itu tidak ada di daerah lain hanya di sungai musi, Palembang.
Gambar 3.  Salah Satu Makam Di Pulau Kemarau
            Pulau Kemarau adalah sebuah pulau yang terletak ditengah-tengah delta sungai musi.  Nama Kemarau atau Kemaro didapat karena pulau ini tidak pernah banjir walaupun sungai musi meluap atau pasang besar sekalipun.  Pulau Kemarau merupakan pulau yang sangat kental rasa Tionghoahnya.  Di atas Pulau Kemarau terdapat sebuah pagoda besar, kelenteng, pohon cinta dan gundukan-gundukan tanah yang katanya adalah makam dari Siti Fatimah, Tan Bun An dan pengawalnya.  Ada sebuah legenda yang sangat dipercaya oleh masyaratakat Tionghoah dan Palembang dari terbentuknya Pulau Kemarau ini.  Pada sebuah prasasti batu di atas Pulau Kemarau dikisahkan sebagai berikut:
“Ada legenda seorang putri raja bernama Siti Fatimah yang disunting oleh seorang saudagar Tionghoah yang bernama Tan Bun An pada zaman kerajaan Palembang, Siti Fatimah diajak kedaratan Tionghoah untuk melihat orang tua Tan Bun An setelah disana beberapa watu Tan Bun An beserta istri pamit pulang ke Palembang dan dihadiahi 7 (tujuh) buah guci, sesampai di perairan musi dekat Pulau Kemaro Tan Bun An mau melihat hadiah yang diberikan, begitu dibuka Tan Bun An kaget sekali isinya sawi-sawi asin tanpa banyak berpikir langsung dibuangnya ke sungai, tapi guci terakhir terjatuh dan pecah di atas dek perahu layar, ternyata ada hadiah yang tersimpan di dalamnya, Tan Bun An tidak banyak berpikir ia langsung melompat ke sungai untuk mencari guci-guci tadi, sesorang pengawal juga terjun untuk membantu, melihat 2 (dua) orang tersebut tidak muncul Siti Fatimah pun ikut lompat untuk menolong, ternyata tiga-tiganya tidak muncul lagi, penduduk sekitar pulau sering mendatangi Pulau Kemarao untuk mengenang 3 (tiga) orang tersebut dan tempat tersebut dianggap sebagai tempat yang sangat keramat sekali”.
 
Gambar 4.  Prasasti Legenda Pulau Kemarau
            Begitulah kisah yang dari mulut ke mulut sering diceritakan tentang pulau tersebut.  Terlepas dari benar atau tidaknya pulau ini bisa dijadikan sebagai saranan rekreasi yang menyenangkan khususnya di kota Palembang.  Bagi pecinta fotografi pagoda dan kelenteng di atas Pulau Kemarau sangat bagus dijadikan objek foto.  Kabarnya saat acara Cap Go Me (tahun baru Cina) atau acara keagamaan Tionghoah lainnya Pulau Kemarau jauh lebih indah terutama dimalam hari karena di atas pohon-pohon rindang Pulau Kemarau banyak dihiasi dengan lampu lampion khas Cina yang begitu indah menerangi pulau kecil ini.
 
Gambar 5.  Pagoda Daya Tarik Fotografer
            Kami hanya diberikan waktu berkeliling 30 menit sesuai perjanjian dengan Mang Ali pemilik perahu ketek yang kami tumpangi.  Oleh karena itu kami tidak bisa terlalu berlama-lama di pulau ini.  Semua yang ada di pulau ini kami nikmati bersama.  Namun ada sedikit rasa kecewah di hati karena pulau ini sangat minim fasilitas pendukung seperti wc umum yang baik dan tempat duduk yang nyaman dan teduh bagi wisatawan karena pulau ini sangat terik dan panas saat siang hari, lalu pulau ini tidak banyak yang dapat dilihat atau kurangnnya hal menarik yang dapat memikat hati wisatawan selain pagoda dan kelenteng yang terdapat di pulau tersebut, kemudian pulau ini juga seperti tidak mendapatkan perhatian khususnya dari segi kebersihan terlihat dari banyaknya sampah, rumput liar dan semak belukar yang tumbuh subur di sekitar pagoda.
 
Gambar 6.  Hanya Pagoda Yang Menarik Hati Wisatawan
            Saran dari kami sebagai penikmat Pulau Kemarau semoga suatu saat nanti dibangung wc umum yang bagus, bersih dan gratis, juga dibangun banyak tempat duduk yang nyaman dan teduh di sekitar pulau seperti gazebo kecil, lalu dibuat pula saranan informasi tentang pulau ini yang nyaman dan bagus dengan fasilitas canggih atau dibuatlah sebuah museum tentang sejarah dan legenda yang terdapat di pulau ini sehingga wisatawan akan mendapatkan banyak hal saat berkunjung ke pulau ini, kemudian tolong diperhatikan sekali kebersihan dan kenyamanan pulau ini sehingga pulau ini bisa lebih menarik dan indah terlihat.
 
Gambar 7.  Back To Ampera
Mitos Pohon Cinta
Gambar 8.  Pohon Cinta
            Selain dari adanya kisah legenda tentang Putri Siti Fatimah dan Pangeran Tan Bun An.  Di Pulau Kemarau juga ada mitos tentang pohon cinta.  Pohon cinta yang dimaksud adalah sebuah pohon beringin yang sudah cukup tua dengan ranting-rantingnya yang sangat rimbun.  Konon katanya apabila seseorang menuliskan namanya dan pasangannya di pohon cinta tersebut maka jalinan cinta mereka akan semakin langgeng dan mesrah dan bagi yang belum memiliki pasangan bila menuliskan namanya dan nama orang yang disukainya maka suatu saat nanti mereka akan menjadi sepasang kekasih baru.  Percaya atau tidak itu terserah anda.

Tips Menuju Ke Pulau Kemarau
Gambar 9.  Kenikmatan Naik Perahu Ketek
1.  Bagi anda yang belum pernah dan ingin mencoba mengunjungi Pulau Kemarau maka ada 2 (dua) cara yang bisa digunakan untuk menujuh ke Pulau Kemarau.
  • Pertama : menggunakan perahu boat dengan biaya Rp 100.000,- sampai Rp 150.000,- per perahu dengan waktu tempuh 10-15 menit.
  • Kedua : menggunakan perahu ketek dengan biaya Rp 80.000,- sampai Rp 100.000,- per perahu dengan waktu tempuh 30-45 menit.
  • Biaya di atas adalah biaya PP (pulang-pergi).
 
Gamabr 10.  Suasana Dermaga Depan Benteng Kuto Besak
  • Perahu boat dan perahu ketek tersebut banyak ditemu di dermaga depan Benteng Kuto Besak. Saran dari saya tawarlah dengan semurah-murahnya saat bernegosiasi jangan sampai anda langsung menerima dengan begitu saja saat ada yang menawari anda.
2.  Pakailah baju berlenggan pajang dan span yang nyaman karena di atas perahu dan di Pulau Kemarau cuacanya sangat terik dan panas.
3.  Bawaklah bekal sendiri dari rumah terutama air agar tidak dehidrasi.
Gambar 11.  Siapkan Bekal Saat Ke Pulau Kemarau
4.  Waktu terbaik menuju ke Pulau Kemarau adalah pagi dan sore hari karena cuaca saat itu tidak terlalu panas.
5.  Moment terbaik ke Pulau Kemarau adalah saat upacara keagaamaan Tionghoah karena di Pulau itu akan ramai dengan lapion yang menghiasi dan menerangi pulau tersebut dan banyak dikunjungi wisatawan local dan manca Negara.
Gambar 12.  Pulau Kemarau Di Siang Hari
 

Jumat, 20 Mei 2011

Untuk Bapak-bapak Terhormat

Tadi malam saat baru pulang dari kuliah langsung menghidupkan TV dan tak sengaja menonton berita disalah satu stasiun tv swasta mengenai kericuhan yang terjadi saat kongres PSSI berlangsung yang berakhir dengan ditutupnya kongres oleh ketua KN Bapak Agum Gumelar.
Aneh, apa sih yang bapak-bapak terhormat cari sampai harus mengorbankan kepentingan semua orang hanya untuk mementingkan ego pribadi. Harta, Jabatan dan Kekuasaan apakah itu yang kalian cari??
Dulu pernah hebo tentang revolusi pssi saat masih dijabat oleh NH, semua orang bersatu untuk menjatuhkan rezim NH. Tapi nyatanya sekarang NH (pasti) sedang tertawa (hahaha) lepas melihat kekanak-kanakan peserta kongres dalam usahanya mengejar kekuasaan (ternyata yg lebih ngotot mencari kekuasaan adalah kalian-kalian yg telah menjatuhkannya).
Dengan alibi revolusi juga pihak-pihak pendukung bapak GT dan AP mengejar kekuasaan yang sama dengan pendahulunya (yang mereka jatuhkan bersama-sama). Sekarang apa bedanya NH dengan GT dan AP. Mereka semua sama saja, mereka semua sama-sama mementingkan ego pribadi diatas kepentingan rakyat besar yang pada dasarnya pemilik PSSI sesungguhnya.
Ingat, tolong diingat PSSI bukan hanya milik bapak-bapak terhormat pemakai jas dan dasi, PSSI itu milik rakyat Indonesia. PSSI itu milik kami, kenapa kalian tidak ingat itu, yang kalian ingat cuma uang, kekuasaan dan jabatan.
Sebagai salah satu dari sekian juta rakyat Indonesia, saya sungguh tidak ridho dan terima apabila cuma karena kepentingan pribadi kalian tanpa melihat dari sudut pandang rakyat PSSI harus dijatuhkan sanksi oleh FIFA, sungguh kami tidak terima. Kalau sampai PSSI dijatuhkan sanksi itu sama saja kalian telah membunuh harapan semua orang Indonesia yang sangat ingin melihat kiprah TIMNAS Indonesia bertanding dalam ajang Sea Games di kandang sendiri. Perlu diingat lagi moment kali ini sangat berbeda, semua rakyat Indonesia terlanjur mencintai Timnas Sepakbola negeranya, sekarang tua-muda, kakek-nenek, bapak-ibu, adik-kakak, dan suami-istri semuanya mencinta Timnas Sepakbola Indonesia, jarang sekali momentum ini terjadi dimana semua orang sekarang suka bola, apakah kalian akan tega membunuh kecintaa itu dari hati semua rakyat Indonesia.
Sekali lagi, bapak-bapak yang sangat kami hormati, “PSSI bukan hanya milik kalian tapi milik semua rakyat Indonesia”.
Jangan sampai harta, jabatan dan kekuasaan membutakan hati dan nurani bapak-bapak berjas dan berdasi sekalian.
Catatan seorang yang sangat mencintai PSSI lebih dari segalanya !!!!!!!! (21 Mei 2011)

 

Rabu, 27 April 2011

Jalan-Jalan Malam Bersama D3100

Momen di malam hari begitu indah, terutama suasana malam di pinggir sungai Musi jika dilihat dari atas Jembatan Ampera. Kesempatan menikmati suasana malam yang indah di atas Jembatan Ampera ini tidak saya sia-siakan, langsung saja cinta kasihku D3100 dikeluarkan dari sarangnya untuk menangkap moment moment indah yang terlukis nyata dihadapan wajah saat itu juga. Inilah beberapa foto yang terekam oleh mata lensa cintaku si D3100. Selamat menikmati:::
1. Kuto Besak Di Malam Hari 1
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/16.0
Focal Length :35 mm
ISO Speed :100
Date Taken :Apr 25, 2011, 6:23:40 PM

2. Kuto Besak Di Malam Hari 2
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/16.0
Focal Length :55 mm
ISO Speed :100
Date Taken :Apr 25, 2011, 6:26:30 PM

3. Kuto Besak Di Malam Hari 3
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/22.0
Focal Length :55 mm
ISO Speed :100
Date Taken :Apr 25, 2011, 6:29:08 PM

4. Ampera Di Malam Hari 1
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/32.0
Focal Length :34 mm
ISO Speed :100
Date Taken :Apr 25, 2011, 6:35:01 PM

5. Ampera Di Malam Hari 2
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/32.0
Focal Length :38 mm
ISO Speed :100
Date Taken :Apr 25, 2011, 7:00:43 PM

6. Ampera Di Malam Hari 3
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/36.0
Focal Length :55 mm
ISO Speed :100
Date Taken :Apr 25, 2011, 7:02:42 PM

7. Kunang Kunang Di Ujung Palembang
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/7.1
Focal Length :55 mm
ISO Speed :100
Date Taken :Apr 27, 2011, 6:32:45 PM

8. Pusri Di Ujung Musi 1
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/5.6
Focal Length :29 mm
ISO Speed :100
Date Taken :Apr 27, 2011, 6:36:59 PM

9. Pusri Di Ujung Musi 2
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/5.6
Focal Length :55 mm
ISO Speed :100
Date Taken :Apr 27, 2011, 6:45:48 PM

10. Pusri Di Ujung Musi 3
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/6.3
Focal Length :20 mm
ISO Speed :100
Date Taken :Apr 27, 2011, 6:50:48 PM

11. Warna Warni Palembang 1
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/14.0
Focal Length :26 mm
ISO Speed :100
Date Taken :Apr 27, 2011, 7:02:43 PM

12. Warna Warni Palembang 2
NIKON D3100
Shutter Speed :300/10 second
Aperture :F/36.0
Focal Length :40 mm
ISO Speed :200
Date Taken :Apr 27, 2011, 7:11:28 PM


Demikian hasil tangkapan kesayangan ku D3100. Selamat menikmati. Jika berkenang silahkan tinggalkan kritik dan saran yang membangung untuk lebih baik.

Kamis, 24 Februari 2011

Kisah Dari "Indonesia vs Turkmenistan"




Benar-benar seru acara nonton bareng pertandingan pra olimpiade Indonesia vs Turkmenistan kemarin, walaupun akhirnya Indonesia harus menyerah dengan skor 3-1 dari tim lawan tapi kehebohan dan keseruan nonton bareng teman-teman itu yang tidak bisa dilupakan.

Kehebohan itu sudah dimulai sejak sehari sebelum pertandingan, awalnya kami iseng ingin nonton supayah masuk tv dengan cara membuat sepanduk yang bertuliskan salah satu stasiun Tv yang menyiarkan pertandingan tersebut. Besoknya spanduk itu benar-benar kami buat dan kami bawak ke stadion Gelora Jakabaring, tujuan kami ada dua pertama masuk Tv dan ketemu Okto.. hehehe

Jam 5 sore kami sudah sampai di stasion setelah sebelumnya kami berangkat dari rumahku di Perumnas dengan menumpang salah satu kendaraan umum yang sedang populer di kota Palembang "Transmusi" denang tujuan tempat pemberentian halte SMP 9/10 walaupun akhirnya kami stop di halte selanjutnya karena kelewatan.

Di halte dekat cambai kami menunggu teman kami Derry yang memang sangat kami andalkan hari itu karena dialah satu-satunya teman yang membawak kendaraan pribadi sehingga kami bisa diberikan tumpangan gratis hingga stadion tempat pertandingan.

Kehebohan dimulai, pukul 5 sore kami telah tiba di stadion, apa yang kami lihat pertama kali langsung kami beli "stiker gambar bendera Indonesia" masing-masing teman dan saya membeli 2 buah stiker yang seharga 1000 rupiah untuk 2 buah stiker yang kecil-kecil itu.

Selepas bergaya dengan stiker ditempel di di pipi dan tangan lalu kami menujuh ke tribun tempat kami menonton. Saat menujuh tribun itulah kami melihat Bus Timnas Turkmenistan tiba dan semua oficial turun tertib satu per satu yang di awali oleh sang pelatih kepalah, sepontan saja saya menjulurkan tangan untuk bersalaman dan sang pelatih pun tanpa sungkan menghampiri dan mengucapkan salam kepada saya "Assalam mualaikum" lalu dengan lantang tapi heran saya jawab "Walaikum salam Wr. Wb." hahaha saya senang bisa salaman dengan pelatih dari luar negeri bukan "luar daerah".. ^_^

Hampir semua oficial dan pemain Turkmenistan saya sapa dan meminta tanda tangan namun hanya satu yang menghampiri dan memberikan tanda tangan ke saya si 12 yang saat pertandingan baru saya tau namanya mirip orang Indonesia "Asamov Tuki Jan" kalau tak salah... Mungkin leluhurnya ada yang berasal dari Indonesia dari kelan Tuki Jan... :)

Terakhir yang memberikan salam kepada saya adalah orang yang berbadan tinggi (padahal semuanya memang tinggi) dan berjas.

Tak lama kemudian Bus Timnas Indonesia tiba tapi sayang seribu sayang Bus yang membawak Tim kebanggan Masyarakat Indonesia tidak turun di luar tapi di dalam stadion dan terkunci rapat sehingga para pendukung kecewah, tapi tak apalah paling tidak para pemain dengan ramah melambaikan tangannya ke kami sehingga sedikit kekecewaan kami hilang, trus si Ruben bakal pemain naturalisasi memebrikan jempolnya ke kami "terutama saya".. hahaha

Lanjut kami pun langsung bergegas meujuh tribun timur tapi ada tapi lagi tiba tiba menyusul mobil Inova berwarna silver yang membawak oficila Indonesia yang salah satunya adalah legenda hidup sepak bola Indonesia Bung SUTAN HARHARA. Spontan saja saya sapa "Pak Sutan" , dia menjawab "oh ya, apa kabar?" dengan tangannya berjabatan dengan saya, saya jawab lagi "baik Pak" dalam hati saya pikir emang kapan kami pernah ketemu sampe dia nanyai kabar saya. hehehe... Pak Sutan yang ramah pun saya pintak tanda tangannya, beliau dengan senang hati memberikan Tanda tangannya ke baju saya yang sebelumnya dengan sopan "ohh boleh, mau dimana saya tanda tangannya", saya jawab "di sini saja Pak, di bagian atas baju saya"...

Bangga kali saya dapat tanda tangannya Pak Sutan walaupun dia tidak eksis lagi di dunia kulit bundar namun namanya harum mewangi selalu dikenang masyarakat pecinta sepak bola Indonesia sebagai salah satu putra terbaik bangsa di bidang olah raga menyepak nyepak bola.

Habis dari situ, kami menunggu teman satu lagi yang hari itu datang terlambat padahal rumah dia digadang-gadang sebagai rumah terdekat dengan stadion Jakabaring se jurusan TP. Kesal kami menunggu dia yang katanya sudah berada di dalam komplek stadion, si Malis salah satu rekan yang paling kesal menunggu namun dengan segala tipu muslihat dia dapat membuat kondisi seola-ola dia yang paling sabar menunggu si Alma teman kami yang terlambat itu..




Tak lama Alma datang dengan raut muka tanpa dosa yang katanya dia terlambat karena menunggu pisang di goreng... heheheh

Sampai di dalam stadion kami langsung mencari tempat yang paling strategis, di dapatlah tempat pas ditengan-tengah sudut menonton yang di seberang tribun kami terlihat jelas kameramen dari stasiun tv yang menayangkan live siaran pertadingan siap siaga untuk menyorot suasana pertandingan.

Kami pun pasang aksi dengan membentang dua sepanduk yang kami bawak, spanduk itu sendiri kami buat dengan cara yang sangat kreatif dengan alat dan bahan seadanya di rumah. Berikut alat dan bahan membuat spanduk tersebut: pertama siapkan karton putih 4 buah dan kuning 2 buah, lalu siapkan cat warna dan printer untuk membuat tulisan sepanduk dan tak lupa piranti lunak untuk mendisan tulisan pada spanduk itu. Akhirnya jadilah spanduk 2 buah dengan tulisan masing-masing : UNSRI DUKUNG INDONESIA SAMPAI MATI dan WE LOVE ANTV.

Bermodalkan dua spanduk itulah kami berharap bisa masuk TV yang di siarkan langsung ke seluruh Indonesia, semua teman di rumah kami beritahu agar segera memberi kabar bila sewaktu-watu kami di sorot TV.

Duduk di belakang kami dua pemuda rada-rada tua berumur kisaran 35 tahun, tadinya mereka meremehkan kapabilitas kami untuk masuk TV,, " yah yang nayangi TV ONE, ngapo nulis ANTV,,hahahahha" tertawalah mereka berdua terbahak-bahak, lalu saya jawab "ANTV jugo nayangi Pak".. mereka jawab "oh iyo ee".. Lalu salah satu dari mereka yang membawak Hape TV membuka siaran live itu dari ANTV dan ternyata benar saja memang pertandingan itu juga di siarkan live di ANTV..

Apa yang terjadi kemudian, semua orang dan tentu saja dua orang dibelakang kami akhirnya mendekati kai agar bisa ikut nyimplung di sorot TV, dengan senang hati kami pun berbagi dengan orang-orang di sana agar bisa masuk TV bareng.

Dua orang di belakang yang membawak Hape TV itu menjadi koordinator kami untuk siap-siap bila nanti Kameramen menshot kami, tak lama sebelum pertandingan di mulai kameramen dengan jelas menshot ke arah kami, lalu orang dibelakang kami memberi intruksi "nah kamu di sorot", spontan kami semua teriak kegirangan, dan tak lama kemudia dua orang teman dan satu kerabat saya di rumah mengrimkan pesan singkat (dibaca sms) ke Hape saya yang semuanya berisi "ooiii, kamu masuk tipi,, hahahhaha"..




Wahhh bangga benar saya, akhirnya masuk TV yang disiarkan nasional, hanya karena bermodalkan spanduk kertas saja.




Bersambung (mau kuliah ni ceritanya)

Lanjut lagi,,

Cerita berlanjut selepas pertandingan yg berkesudahan untuk kemenangan bagi Turkmenistan...
Kami pulang ke arah tribun barat dan berharap kalau kalau bisa bertemu dengan para pemain Timnas Indonesia yang berjalan menujuh ke Bus mereka.

Bersama teman saya Hafid kami bergegas menujuh tempat Bus Timnas Indonesia di parkir, terlihat kerumunan orang telah bersiap dengan spidol dan baju masing-masing untuk memintak tanda tangan para pemain timnas sontak saja saya berdua Hafid langsung masuk bergabung ke krumunan orang itu, waktu kami masuk orang-orang yang ada dibelakang kami terlihat mengiringi kami dan ikut masuk juga dan di sanalah saat pengusiran terjadi, para Polpp perempuan dengan beringas dan suara nyaring tapi cempreng mengusir kami dan tempat itu, saya yang ada pas di depan satPolpp itu jadi korban satpolpp cewek yang memukul dengan tangannya.

Terpaksa dengan berat hati kami menyingkir dari tempat itu, di luar kami tidak kehilangan akal untuk mencari orang lain yang familiar untuk di pintak tanda tangan dan ternyata yang terlihat lagi adalah Pak Sutan Harhara, "dalam hati yah orang ini lagi". Tapi karena teman-teman yang lain belum sempat bertemu dan bersapa dengan Pak Sutan akhirnya kami semua termasuk saya menghampiri pak Sutan untuk memintak tanda tangan di spanduk yang kami bawak, Pak Sutan kembali dengan keramahannya menorehkan tanda tangannya di lambang Unsri pada spanduk yang kami bawak. Resmilah spanduk itu sebagai spanduk suporter Unsri karena sudah diteken oleh legenda hidup sepak bola Indonesia.




Sudah memintak tanda tangannya kami pun memintak Foto bareng dengan Pak Sutan, nah yang ini baru saya mau karena memang tadi belum sempat foto bareng dengan Beliau.. hehehe

Foto bareng dilakukan beberapa sesi pemotretan, mungkin ada sampai 4 kali sesi pemotretan termasuk yang memakai hape BlackBerry Pak Sutan, yah malam itu Pak Sutan juga sangat senang bisa berfoto bersama kami para mahasiswa tingkat akhir di salah satu jurusan yang terdapat di Unsri, Beliau tampaknya juga sangat bangga bisa berfoto bareng dengan kami oleh karena itulah selepas berfoto dengan belaiu, Pak Sutan memintak kami tetap pasang aksi karena dia ingin mengabadikan sendiri gambar kami para suporter hebat dari Unsri, mungkin akan dijadikanya sebagai kenangan terindah dari kota Palembang bisa foto bareng dengan mahasiswa tingkat akhir Unsri yang punya masa depan sangat cerah cerah sekali... hahaha




Salam perpisahan kami lakukan dengan Pak Sutan yang akan segera meninggalkan tempat itu untuk kemudian menujuh ke Hotel tempat beliau istirahat. Sebelum itu saat memintak beliau foto bareng hanya berdua agar bisa dijadikan sebagai foto profil di FACEBOOK. hahaha




Belum berakhir cerita di malam pertandingan itu. Sudah puas foto-foto dengan Pak Sutan saya dan Hafid kembali ketempat kami diusir tadi, sama dengan tujuan awal kami berusaha untuk mendapatkan foto para pemain Timnas dan yang paling utama adalah Ruben dan Okto.

Satu satu para Polpp yang ada di dalam area tersebut kami mintakan tolong untuk mengambil tanda tangan Okto, tapi dengan angkunya mereka menolak saya, sungguh saya sangat kecewah dengan sifat orang seperti itu, tapi tak patah arang kami mencari sukarelawan lain yang mau dengan tulus ikhlas menolong saya memintak tanda tangan Okto, dan akhirnya datanglah tiga orang cewek suporter Indonesia yang juga punya tujuan sama memintak tanda tangan Okto adapun mengapa tiga orang cewek itu bisa masuk ke areal steril penonton itu tak lain tak bukan karena sifat mata keranjang para petugas polpp yang menjaga tempat tersebut yang dengan mudahnya memberikan izin bila para cewek merayu mereka untuk mengizinkan masuk, dasar pecundang. Tapi tak apa biarpun tidak bisa masuk kami tetap bisa mendapatkan tanda tangan Okto akhirnya lewat bantuan salah satu dari 3 orang cewek tersebut, cewek itu dengan malu-mal tapi mau akhirnya menolong saya untuk mengambil tanda tangan Okto, dengan sigap dan cekatan dia mencegat Okto dari tempatnya berjalan lalu dengan sedikit memaksa meminta tanda tangan dan tahukah kalian bawah cewek itu lebih meduluhkan baju saya yang di tanda tangan dibandingkan baju dia. Sudah habis berjuang cewek itu mengembalikan baju saya dan dengan senang hati saya ucapkan "TERIMA KASIH BANYAK", ohh yah si Hafid teman setia saya saat itu juga tak mau sia-sia dengan cekatan dia bersalaman dengan cewek itu yang memang raut mukanya sedikit bagus "dapatlah poin 6". Dalam hati saya "waahhh Hafid akhirnya bisa pegangan tangan dengan cewek setelah bertahun-tahun tidak berjabat tangan dengan cewek setelah dia putusan dengan si Dia anggap saja Mawar namanya (mawar bukan nama sebenarnya, Red). hahaha
ahhh,, puas hari itu hari yang sangat menyenangkan, bisa seru-seruan dengan teman-teman yang mungkin jarang sekali bisa terjadi,, semoga suatu hari kelak ada lagi moment kebersamaan seperti ini,,, amin..

By Adrian Fajriansyah 24/02/2011

Rabu, 16 Februari 2011

Cahaya "Yang Kecil, Tapi" Terang




Manusia tercipta dengan banyak masalah, dan juga diciptakan untuk memecahkan setiap masalah karena tidak ada satu pun problem hidup yang tidak dapat diselesaikan.

Semua orang punya cita-cita yang ingin ia capai. Namun manusia juga mudah sekali untuk putus asa bila yang dikejar tak sampai.

Satu lagi sifat manusia adalah tak pernah puas dengan apa yang ada dan dimiliki saat ini. Manusia jarang berpikir untuk bersyukur dengan yang ada sekarang, namun manusia cenderung selalu berpikir bagaimana mendapatkan sesuatu yang tidak dimiliki sekarang.

Terkadang sebagai manusia kita bermata tapi tak melihat, bertelinga tapi tak mendengar.

Tak pernahkah kita bayangkan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang ada di bawah kita, orang-orang yang lebih tidak beruntung dari kita. Sebagai manusia yang beragama sungguh tidak berakhlak kita bila selalu melihat ke atas, selalu ingin sama dengan apa yang dimiliki orang lain.

Boleh kita memiliki ambisi dan cita-cita menjadi sama dengan orang lain, tapi bukan bearti kita harus melupakan untuk bersyukur dengan yang ada saat ini di tangan kita.

Indonesia saat ini, orang-orang yang ada di Negeri ini sekarang semuanya punya satu ambisi memiliki apa yang tak mereka miliki. Korupsi akhirnya lahir dari keambisiusan itu.

Nusantara terdengar lagi tangismu, mengabarkan marah sang duka dari saudara-saudara kita yang kurang beruntung.

Tapi yakinlah cahaya perubahan itu pasti masih ada dan akan menuntun kita menjadi Negara yang lebih baik.

—>>>

Melihat sebuah cahaya yang tak terlalu terang di malam gelap terpikir bahwa dengan sedikit kilauan ini hati jadi lebih tenang walaupun gelap disekitar lebih dominan.

Hebatnya sebuah cahaya, luar biasanya sebuah cahaya.

Manusia tidak akan bisa melihat bila tak ada cahaya yang masuk ke lensa mata.

Demikian pula cahaya kemuliaan dari yang maha kuasa apabila telah menyentuh mata nurani yang ada di dalam tubuh ini maka teranglah hati kita.

Kita akan melihat sebuah cahaya yang tak terang namun dapat menuntun. Kita dapat menujuh sebuah gerbang kecerahan lewat jalan yang dituntun dari sebuah cahaya.

Cahaya yang terlihat kecil dan sederhana namun bisa memberikan arah dan tujuan yang pasti menujuh sebuah alam kehidupan baru yang lebih berwarna dan indah.

Cahaya kecil yang tak terlalu terang itu masih ada di dalam lubuk hati kita.

Cahaya itulah yang akan mengajak kita menujuh ke arah kehidupan yang lebih baik.

Indonesia kelak pasti akan Jaya..!!!!!!!!!

By Adrian Fajriansyah 17/02/2011

Perbedaan Itu Indah (Ibarat Warna Warni Pensil Warna)



Kalau boleh hidup ini saya ibaratkan bagaikan pensil-pensil warna alangkah indahnya dunia ini.
Betapa indahnya perbedaan,

Perbedaan itu indah loh, warna warni kehidupan ibaratkan warna warni pensil warna yang membuat indah sebuah lukisan karena  perpaduan dari macam-macam jenis warna. Coba kalau di dunia ini hanya ada satu warna; kuning saja atau merah saja, atau biru saja, atau hijau saja, atau kah hitam saja, sungguh kehidupan seperti itu sangat hampa dan terasa hambar.

Warna tercipta berbeda karena kodrat mereka yang diciptakan untuk saling melengkapi, saling mengisi, berpadu selaras untuk menciptakan sebuah keindahan dan keserasian.

Nasib warna itu juga yang terwakili pada kehidupan di dunia. Di dunia Tuhan menciptakan berbagai macam bentuk mahluk yang berbeda ada Manusia (yang katanya paling sempurna), hewan darat, hewan laut, hewan melata, hewan bersayap, hewan berkaki empat, hewan memama biak, tumbuhan, tumbuhan laut, dll banyak lagi yang lainnya. Semua itu diciptakan untuk saling melengkapi, saling menyempurnakan, saling berketerkaitan dan menciptakan keragaman dalam dunia.

Baru-baru ini, bukan baru mungkin hebo di TV, media cetak dan elektronik memberitakan tentang kasus SARA di Indonesia yang sampai memakan korban jiwa.

Sungguh ironis kemana semboyan “BINEKA TUNGGAL IKA” yang menjadi dasar Negara ini, tak malukah kita sebagai bangsa yang katanya beradab dan sangat menjunjung tinggi azaz kekeluargaan bertindak berutal cuma karena adanya perbedaan keyakinan dan kepercayaan pada saudara satu bangsa dan negara kita sendiri.

Tak adakah cara lain selain dengan kekerasan untuk memecahkan masalah tersebut. Kita sadari bahwa negara kita mayoritas muslim seharusnya kita harus menjunjung tinggi ajaran dari kitab suci Al-quran yang sudah jelas sangat menjunjung tinggi kedamaian. Rosul pun dalam memecahkan suatu masalah tak serta merta langsung bertindak dengan kekerasan namun dahulukanlah DIALOG.

Tak perlulah kita bahas apa itu DIALOG..

Yang harus kita pahami adalah makna suatu perbedaan.

Menyikapi suatu perbedaan. Perbedaan itu kalau disikapi dengan POSITIV akan menghasilkan suatu keselarsan yang begitu indah dan lagi-lagi saya mengibaratkan itu bagaikan warna warni pensil warna. Tapi bila disikapi dengan NEGATIV perbedaan itu begitu mudahnya menjadi awal malapetaka dan awal kehancuran dunia sebab sudah jelas sejarah mencatat perang dunia I, perang dunia II, perang Korea, perang Vietnam, Perang Israel-Palestina dan Konflik Indonesia-Malaysia juga perang saudara yang pernah terjadi di negeri ini  semuanya diawali oleh cara kita  yang menyikapi perbedaan secara negativ, kedua belah pihak yang memiliki perbedaan pola pikir berusaha keras untuk menyakinkan bahwa pemikiran merekalah yang paling benar, tidak mau menerima perbedaan yang berusaha menyakinkan bahwa apa yang kita yakinilah yang paling benar merupakan ciri orang-orang JAHILIA yang  tidak mampu berpikir jenih untuk menyikapi perbedaan secara selaras dan saling mengisi untuk saling menyempurkan kekurang yang ada antara satu dan lainnya.

Sesungguhnya setiap manusia bukanlah mahluk yang sempurna. Setiap manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Oleh sebab itulah mengapa kita berbeda karena kita tidak diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan yang sama. Mengapa kita tidak diciptakan sama karena Tuhan yang maha Esa menyukai keindahan sebab keindahan tercipta dari perpaduan antar perbedaan yang saling menyempurnakan, “ibarat sebuah lukisan yang tercipta menjadi karya yang indah karena sang penciptanya menyukai perpaduan warna-warni warna yang dipadu untuk saling mengisi, menselaraskan dan menyempurnakan dengan sedikit sentuhan rasa seni semuanya menjadi Indah dan mewah sehingga membuat tertarik orang untuk menikmati dan memilikinya”..

So, mulai hari ini maknai perbedaan itu dengan POSITIV, jadikan perbedaan kita sebagai kekuatan untuk saling menyempurnakan sehingga kita semakin kuat, semakin erat dan kelak Indonesia akan menjadi jaya karena perbedaannya yang beragam itu.

Buktikan bahwa “BINEKA TUNGGAL IKA” itu masih ada..

Jayalah Indonesia dengan perbedaannya.. !!!!!!! Jangan mau terpecah belah oleh konspirasi orang-orang yang tidak menyukai kedamaian yang terjalin indah di Negeri tercinta ini..

Kembali pada pensil-pensil warna tersebut, betapa indahnya warna-warna itu tercipta. Warna-warni gambar pensil tersebut tak lain dan tak bukan tercipta lewat my camera SONY DSC-H50 yang begitu aku sayangi karena lewat dialah rekam jejak kehidupan yang aku lewatkan dapat terdokumentasi dengan indah.

By Adrian Fajriansyah 16-02-2011

Selasa, 26 Oktober 2010

PERCOBAAN KEDUA BERBUAH MANIS (Pengalaman Ke Dua)

PERCOBAAN KEDUA BERBUAH MANIS

Ceritanya dimulai pada tanggal 12 Oktober 2010 saat saudari Cefti Lia Permatasari mengirimkan aku sebuah wall di Facebookku berisikan seperti ini:

BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR (BEM FEMA IPB) PROUDLY PRESENT: INDEX 2010

for more information
http://www.index2010.wordpress.com/
ado lomba fotografinya juga loh :)

Lewat wall inilah aku dapat kabar tentang perlombaan fotografi. Aku antusias membaca persyaratan dan ketentuan lombanya lewat link itu. Kalau ditanya apakah aku tertarik ikut lomba itu? Maka jawabnya: yah aku sangat tertarik.. hehehe

            Apalagi dua hari sebelumnya hatiku sangat berbunga-bunga karena baru saja fotoku menjadi yang terbaik di Lomba Fotografi Gelora Pers Universitas Sriwijaya Ke 17 yang bertema Back To Nature.

            Ingin rasanya menikmati sekali lagi atmosfer kompetisi dan kalau bisa kembali menjadi yang terbaik karena rasanya sangatlah menyenangkan.. hahaha

            Bisa dikatakan aku sangatlah amatir di bidang fotografi ini, mungkin baru setahun belakangan inilah aku baru serius belajar dan mendalami dunia fotografi. Bahkan yang namanya kompetisi fotografi adalah hal yang asing bagiku, sebelumnya aku tidak pernah sekali pun ikut dalam lomba-lomba berbau fotografi seperti ini. Lomba Fotogarfi Gelora Pers Unsri adalah percobaan pertamaku dalam mengikuti kompetisi semacam ini dan ternyata hasil akhirnya sangat memuaskan.

            Okey singkat cerita, langsung ke pokok pembicaraan, aku akhirnya ikut berpartisipasi dalam lomba fotografi yang kedua kalinya di acara Index 2010 yang diadakan oleh Bem Fema IPB.  Tema lomba itu sendiri adalah tentang “Save Our Water With Your Camera”, aku sempat bingung dengan tema itu dalam hatiku bertanya konsep foto semacam apa yang akan aku tampilkan dalam lomba tersebut??, foto semacam apa yang akan membuat juri-juri di sana terkesan dengan fotoku??

            Aku cari di Google tentang konsep foto yang bertema “Save Our Water”. Om Google sendiri banyak memberikan konsep foto semacam: air yang menetes ke sebuah tampungan air besar lalu membuat gelombang yang indah, ada juga air yang menetes berlahan dari keran, terus ku dapati pula konsep foto mengenai orang mengantri air disebuah tempat penjualan air bersih, semuanya tampak terlalu familiar (biasa) bagiku, pasti semua orang punya konsep foto semacam ini, dalam otakku berkata bahwa aku harus menampilkan konsep foto yang berbeda, aku harus menampilkan sebuah foto yang terdiri dari pesan-pesan kehidupan yang sangat mendalam, akhirnya kutemukan sebuah foto dari galeri om Google yang memperlihatkan sekumpulan ibu-ibu sedang mencuci pakaian bersama disebuah pesisir sungai, lalu terbersit dalam hatiku “nah ini dia konsep foto yang akan aku gunakan”.

Dari penemuan konsep lewat om Google itulah ideku keluar mengalir bak air dari keran. Esoknya Rabu tanggal 13 Oktober 2010, dengan sahabatku KGS. M. HABIBILLAH kami hitari sudut-sudut kota Palembang yang tentunya sangat jarang di lihat orang bahkan mungkin inilah sisi unik kota Palembang yang tidak dimiliki daerah-daerah lainnya di Indonesia bahkan dunia dan akhirat.. ^_^

            Seharian kami berdua menyelusuri sudut-sudut kota Palembang yang unik, banyak foto yang aku ambil mulai dari: Foto Suasana Pasar Sekanak Di Pinggiran Sungai Sekanak (Anak Sungai Musi), Foto Papan Peringatan Untuk Mengingatkan Warga Agar Selalu Menjaga Kelestarian Lingkungan Terutama Di Sungai, lalu ada pula Foto Salah Satu Anak Sungai Musi Di Daerah Plaju Yang Tercemar Limbah Keluarga Yang Sangat Memperhatinkan, kemudian juga Foto Keceriaan Anak-Anak Yang Bermain Bersama Di Sungai. Semua foto-foto yang aku dapatkan di siang hari saat itu belum membuatku puas karena menurutku semuanya sangat biasa (sederhana) sedangkan aku ingin menemukan sebuah foto yang bisa menyampaikan pesan-pesan yang banyak dan mendalam tidak hanya satu pesan saja. Konsep foto yang telah aku rancang di malam hari sebelumnya yaitu ibu-ibu berkumpul mencuci pakaian bersama di pesisir sungai belum ditemukan, aku sangat penasaran untuk menemukan konsep foto semacam itu.

            Hari saat itu sudah semakin sore, kami berdua sudah bosan mencari tapi aku masih penasaran untuk menemukan orang-orang yang sedang beraktivitas di Pinggiran Sungai Musi, sampai akhirnya saat waktu sudah hampir petang sekitar pukul 17:00 wib kami menemukan sebuah objek yang sangat luar biasa di daerah Pinggiran Sungai Musi kawasan Ki Gede Ing Suro (daerah tempat tinggal keluarga temanku Kgs. M. Habibillah), di sana kami menemukan sekeluarga besar yang terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak-anaknya sedang berkumpul bersama di Pinggiran Sungai Musi itu, si Ibu sibuk mencuci, si Ayah sedang memancing dan anak-anaknya mandi juga berenang ke sana dan ke mari, dalam hatiku “nah ini dia konsep foto yang benar-benar aku idamkan” objek yang sangat luar biasa, tanpa ragu aku langsung menge-shoot moment hebat itu, suasana kawasan itupun sangat mendukung dari pesan-pesan yang akan aku sampaikan lewat foto itu, suasana saat itu sangat cerah, langit berawan sedikit kekuning-kuningan, terus tempat yang sangat tradisional, juga pinggiran sungai yang sedikit tidak terawat tapi tetap menjadi tempat favorit bekumpul keluarga untuk melalui sore hari yang indah.

            Foto didapat, dan hasilnya sesuai rencana dan konsep dalam pikiranku. Dalam foto itu ingin ku sampaikan 5 hal penting yaitu Kebersamaan, Keceriaan, Keindahan Sungai Musi, Keunikan Pesisir Sungai Musi dan tentu Pentingnya Air Sungai Musi sebagai urat nadi kehidupan wong Palembang.

            5 pesan ini yang sangat aku unggulkan, karena aku pikir konsep foto orang lain pasti kebanyakan hanya menampilkan 1 pesan atau paling banyak 2 buah pesan. Lewat pesan-pesan yang terkandung dalam foto inilah sedikit membuatku pede untuk mengikuti kompetisi ini.

            Esoknya hari Kamis tanggal 14 Oktober 2010 aku kirimkan foto itu lewat Pos Kilat, banyak benar pengorbanan untuk mengumpulkan foto ini, mulai dari uang yang pas-pasan (bahkan sampai kehabisan uang yang membuat aku tidak bisa berangkat ke Indralaya) sampai dengan harus mengejar deadline pengiriman foto yang ditutup pada hari sabtu tanggal 16 Oktober 2010. Namun akhirnya foto itu terkirim juga dengan segala upayah.. ^_^

            Seminggu harus menanti kabar tentang pengumuman hasil lomba tersebut yaitu tanggal 24 Oktober 2010. Waktu yang sangat lama untuk dinanti membuat aku tidak sabaran mendengar/ melihat hasilnya, hampir tiap hari aku mencari-cari kabar bagaimana hasil lomba itu, apakah aku masuk dalam finalis lomba itu (hatiku terus bertanya seperti itu) sampai pada tanggal 19 Oktober 2010 masih belum juga ada kabarnya padahal menurut jadwal yang tertera dalam blog Index 2010 tanggal 19 Oktober adalah saat pengumuman finalis tapi saat itu belum juga ada kabarnya, mungkin besok ada kabarnya aku pikir seperti itu, tapi ternyata besoknya juga belum ada kabar.

Lelah menunggu kabar akhirnya aku pesimis, “pasti aku tidak bakal menang dalam lomba ini” bagaiman tidak pesimis sampai tanggal 22 Oktober belum juga ada kabarnya. Sudah aku pikir pasti tidak bakal menang dan akupun melupakan bayang-bayang setidaknya masuk 3 besar dalam lomba itu..

Eeehhh ternyata pukul 9 malam tanggal 22 Oktober 2010 saudari DINI PANITIA LOMBA tersebut mengabarkan bahwa aku masuk 3 besar, sontak saja aku terkejut membaca kabar itu lewat layanan Short Message Service (SMS) karena saat itu aku sedang berkumpul besama teman-temanku di kostan M. Hafid Fitrian (temanku), takku sangka dan takku duga padahal aku sudah mulai melupakan lomba itu dan ternyata aku bisa masuk 3 besar.. Alhamdulillah aku ucapkan bisa masuk 3 besar lagi (padahal aku baru 2 kali ikut lomba semacam ini).

            Kabar dari Dini itu membuat malamku saat itu sangat panjang karena tak bisa tidur, aku terus memikirkan “koq bisa yah fotoku masuk 3 besar?? padahal dalam bayanganku pesaing yang lain pasti fotonya hebat-hebat (karena kompetisi ini terbuka untuk umum pasti banyak peserta yang hebat-hebat),, ahh ternyata fotoku cukup dihargai di sana”. Di kala teman-temanku sudah terlelap tidur aku masih juga terjaga dengan mata yang tak mau ngatuk sedikitpun… hehehe (masih mikirin koq bisa masuk 3 besar, sampai-sampai sms dari DINI itu aku baca berulang-ulang kali untuk menyakini bahwa memang aku tidak mimpi) :P

            Karena sesuatu dan lain hal aku tidak bisa memenuhi undangan dari pihak IPB (panitia) untuk mengikuti acara puncak Index 2010 di BOKER (Botani Squere) Bogor. Lalu aku mintak tolong dengan saudari Cefti Lia Permatasari untuk mewakiliku dalam mengambil gelar kemenanganku yang ke 2 kali itu.. hehehe (dan saudari Cefti dengan senang hati meng-iya-kan)

            Hari minggu tanggal 24 Oktober 2010, saat dimana akan diumumkannya siapa pemenang Lomba Fotografi Tingkat Nasional Index 2010 di IPB yang di adakan oleh Bem Fema, aku gugup membayangkan juara ke berapakah saya???.. Dan ternyata kabar dari Cefti menyampaikan bahwa aku jadi jawarahnya (juara 1 lagi).. hahaha senang hatiku mengetahuinya (2 kali ikut lomba, 2 kali juara 1, dan 2 kali tidak hadir langsung ke panggungnya)..

            Taukah kalian betapa gembiranya hati ini bisa juara 1 lagi. Memang ini sesuatu yang biasa bagi kebanyakan orang, tapi bagiku ini adalah moment dan pengalaman yang sangat luar biasa karena sebelumnya aku tidak pernah merasakan atmosfer di puncak seperti ini. Mungkin suatu saat bila aku sudah biasa menghadapi peristiwa semacam ini tidak akan ada lagi perasaan yang sangat excited seperti ini, jadi sebelum aku terbiasa lebih baik aku nikmati perasaan seperti ini karena ini tidak akan terulang lagi.. hahaha (terserah orang mau bilang apa tapi ini kebanggaan bagiku)..

            Percobaan kedua yang berbuah manis, lewat hasil ini semakin menggebuh-gebuh minatku pada bidang fotografi ini, bahkan karena fotografi inilah Laporan PL ku terbengkalai dan proposal penelitianku tak kunjung selesai.. oohh my God aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan fotografi yang membuat aku kurang minat lagi membuka buku-buku kuliah..

            Percobaan kedua yang tidak mengecewahkan, semoga ini bukan prestasi terakhir yang bisa aku raih, semoga kedepannya dapat ku raih lagi prestasi-prestasi lain yang bisa membuat bangga Bapak dan Ibuku.. hehehe (cita-cita tulus anak berbakti).. ^_^

Sedikit goresan cerita dalam hidupku..

Thanks a lot buat ALLAH SWT juga Kedua orang tuaku..

DAN tentunya Thanks a lot buat Cefti Lia Permatasari yang telah berbaik hati untuk membagi infonya kepadaku dan juga sudah bersediah mewakiliku dalam penerimaan simbolis juara serta dengan repot-repot mau mentag fotonya lewat facebook.. ^_^

Thanks a lot buat Kgs. M. Habibillah yang sudah dengan ikhlas menemaniku keliling seharian ke sudut-sudut kota PALEMBANG… hehehe

Thanks a lot buat M. Hafid Fitrian kostan anda membawa berkah.. hahaha

(hhahaha lebay nian, lah kayak juara Indonesian Idol bae)..

Inilah Foto KemenanganKu.. hehehe 

Ohh yah thanks a lot juga buat orang-orang di dalam foto ini tanpa mereka foto ini tak akan berkesan.. ^_^

Kebersamaan Di Pinggir Sungai Musi
DATA FOTO
Judul : Air Sungai Musi Urat Nadi Wong Palembang
Lokasi : Pinggiran Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan
Jenis kamera : Sony Prosumer Cyber Shot DSC-H50
Waktu pengambilan : Pukul 17:22:28 wib, 13 Oktober 2010
Deskripsi :
Sungai musi adalah jatung hati kota Palembang. Sungai musi dan masyarakat Palembang adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Hubungan rakyat Palembang dan Sungai Musi sudah terjalin sangat lama bahkan sebelum datangnya koloni Belanda. Di sungai inilah dahulu kala armada-armada kerajaan Sriwijaya berjaya. Hingga kini Sungai Musi masih menjadi tokoh sentral dalam denyut nadi kehidupan warga Palembang khususnya.
Hampir segala aktivitas kehidupan dilakukan orang Palembang di Sungai Musi. Apabila kita menyelusuri pesisir sungai dapat kita temui berbagai macam aktivitas yang dilakukan masyarakat sekitar sungai seperti yang terlihat dari foto, mulai dari mandi, para ibu mencuci pakaian, anak-anak bermain riang berenang ke sana dan ke mari, sedangkan bapak-bapak sibuk melaut dengan paruhnya (mencari ikan di sungai musi) untuk nafkah bagi keluarganya, ataupun sekedar memancing mencari ikan untuk lauk makan di rumah bersama keluarga tercinta.
Dari sana dari foto ini dapat kita lihat dan kita bayangkan campura aduk aktivitas yang dilakukan orang-orang di Sungai Musi. Di Sungai Musi semua ada, orang mencari keceriaan, menemukan kebersamaan, memeras keringat mencari nafkah untuk keluarga, suka dan duka semuanya hadir di sungai tercinta ini, bahkan cinta pun dapat terjalin di sungai ini.
Tak bisa dibayangkan bila air sungai ini tercemar semua aktivitas yang biasa dilakukan oleh rakyat sekitar akan mati dan kehidupan sekitar pesisir Sungai Musi pun akan punah. Gejala pencemaran air sungai ini pun sekarang mulai terlihat, banyak air anak-anak sungai dari sungai musi yang mengering, mendangkal dan tercemar limbah terutama limbah keluarga dan bila ini terus dibiarkan dari hari ke hari akan berdampak buruk bagi Sungai Musi itu sendiri.
Lihatlah di foto ini, dapat kita lihat banyak sampah berserakan di pinggiran Sungai Musi, rakyat sekitar banyak yang tidak peduli dengan kebersihan air Sungai Musi padahal dari sungai inilah mereka hidup, dari air sungai ini pula mereka minum. Apakah mereka tidak pernah berpikir bagaimana bila air Sungai Musi tercemar limbah, rusak dan akhirnya kering, yang rugi adalah mereka sendiri.
Sekarang dibanyak tempat di Sungai Musi sudah banyak dipasang papan peringgatan untuk selalu menjaga kelestarian sungai dan kebersihan airnya. Semoga rakyat sekitar Sungai Musi semakin sadar untuk menjaga sungai mereka agar air sungai musi dapat terus dimanfaatkan. Dan untuk kita semua mulai sekarang harus ditanamkan rasa peduli menjaga sungai di sekitar kita karena dari sungailah sumber kehidupan berasal dan dari sungai pula sumber peradapan dimulai.
“Save our river. Save our water.”
Keterangan teknis :
Shutter speed : 10/1250 second
Aperture : F/4.0
Focal length : 9 mm
ISO speed : 100
No flash

By Adrian Fajriansyah 26/10/2010